manusia ketika bayi

Ceritanya, Ketika Saya Balita

Hidup itu berproses. Mulai dari dalam rahim ibu, lahir ke dunia, mulai bisa tengkurap; duduk; dan berdiri, mengucapkan kata-kata pertama, mulai belajar di sekolah, tumbuh remaja dan dewasa, menikah, punya anak juga, hingga akhirnya menjadi tua dan kembali melanjutkan perjalanan ke alam selanjutnya.

manusia ketika bayi
Sumber: wallpapersafari.com

Tapi tentu dalam prosesnya, setiap orang mengalami dan melakukan hal-hal yang berbeda-beda. Setiap orang menikmati prosesnya sesuai waktu, tempat, dan kejadiannya masing-masing. Dan setiap kejadian yang unik akan menjadi memori tersendiri bagi yang mengalaminya.

Memori itulah yang disebut sebagai long term memory, atau memori jangka panjang.

Mungkin, dengan melihat gambar di bawah ini, anda bisa membedakan antara memori jangka panjang dan memori jangka pendek (short term memory).

memori jangka panjang dan memori jangka pendek
Sumber: www.unforgettable.org

Sekarang, ketika saya menulis artikel ini (di umur dua puluhan), mungkin bisa dikatakan saya adalah seorang remaja yang beranjak dewasa. Sehingga sudah cukup banyak memori-memori yang tersimpan dari peristiwa-peristiwa yang saya anggap penting di kehidupan saya.

Namun, karena biasanya memori manusia mulai bekerja sejak berumur 3-4 tahun, dan secepat-cepatnya sejak berusia 2 tahun, kita tidak bisa mengingat peristiwa apa yang kita alami, atau apa yang kita lakukan ketika masih bayi. Sehingga kita hanya bisa mengetahuinya dari orang tua atau keluarga yang menyaksikan masa bayi atau balita kita.

Ayah dan anak
Sumber: pixabay.com

Di artikel kali ini, saya akan bercerita sedikit tentang beberapa kejadian-kejadian atau peristiwa cukup unik yang saya alami ketika saya balita (tepatnya sebelum memori saya bisa mengingat) berdasarkan dari cerita orang tua saya.

Saya dan Korek Api

korek api
Sumber: industri12adepriyono.blogspot.com

Ibu saya pernah bercerita. Ketika saya masih balita, saya sangat senang bermain korek api.

Tidak seperti balita pada umumnya, yang perlu berbagai usaha untuk mereda tangisannya. Mulai dari ditepuk-tepuk, diajak bermain, diberi susu, diambilkan makan, atau berbagai macam usaha lainnya.

Lain halnya dengan saya. Ketika dulu saya menangis, orang tua saya cukup memberikan korek api. Saya pun diam.

Saya mengambil korek tersebut, membuka kotaknya, dan mengeluarkan semua isinya.

Batang-batang korek api
Sumber: pixabay.com

Kemudian, secara perlahan saya ambil kembali batang-batang korek api tersebut satu persatu, dan saya  susun kembali ke dalam kotaknya dengan hati-hati.

Setelah semuanya berbaris dan tersusun rapi, saya tumpahkan lagi. Lalu disusun lagi. Saya terus  saja melakukan hal itu berulang-ulang, hingga lelah sendiri, lalu tertidur. Setelah bangun pun, masih saya ambil, tumpahkan, dan saya susun lagi secara berulang-ulang.

Begitu seterusnya sampai entah apa yang membuat saya berhenti. Mungkin lapar atau waktunya mandi.

Saya dan Radio

Radio Antik Sony
Sumber: www.bukalapak.com

Selain senang bermain dengan batang-batang korek api, saya juga suka mendengarkan suara radio.

Ini juga cara yang ampuh untuk mendiamkan dan menidurkan saya. Dengan meletakkan sebuah radio (yang pada zaman itu merupakan satu-satunya sumber hiburan bersinyal) di samping tempat tidur saya, orang tua saya bisa menyelesaikan pekerjaannya tanpa mengkhawatirkan saya.

Yang saya lakukan ketika ada radio diletakkan dan dinyalakan di samping saya adalah hanya diam dan mendengarkan suara penyiar yang sedang berbicara.

Lalu, kelama-lamaan saya menjadi mengantuk dan tidur dengan sendirinya. Seperti halnya ketika memainkan korek api, saya pun juga melanjutkan mendengarkan suara-suara dari radio tersebut ketika terbangun.

Sebenarnya, saya tidak pernah ingat tentang itu semua. Tapi, begitulah ceritanya, ketika saya masih balita.

Leave a Comment