OTW: Palembang – Sintesa Bagian 2

flight_takeoff-wide

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu OTW: Palembang – Sintesa (Part 1).

Pada artikel sebelumnya saya sudah menceritakan bagaiman persiapan saya sejak beberapa hari sebelum hari keberangkatan menuju Pesantren Sintesa, Magetan.

Mulai dari rencana mau mengajak tiga orang calon santri lain dari Palembang yang lulus seleksi untuk berangkat bersama-sama, mempersiapkan kebutuhan dan perlengkapan, sampai dengan terburu-buru di jam-jam terakhir.

Seperti yang saya ceritakan di part sebelumya, bahwa karena kelalaian saya, akhirnya pukul 3 saya baru berkemas untuk berangkat. Sedangkan pukul 4 sore, yaitu 1 jam lagi, pesawat akan berangkat.

Ngebut

pixabay.com

Akhirnya, setelah berpamitan, kira-kira pukul 3 lewat 15 menit, saya diantar ayah saya menuju bandara dengan sepeda motor.

Sebenarnya orang tua saya sudah kesal karena saya terlalu santai. Sehingga ayah saya mengendarai motor secepat yang ia bias agar sampai di bandara sebelum pukul 4.

Dari rumah saya ke bandara kira kira 20 menit lebih sedikit. Sehingga sampailah saya di bandara pada pukul 4 kurang 20 menit.

Saya langsung mencium tangan ayah saya dan pamit masuk bandara. Sedangkan ayah saya langsung pulang.

Setelah mengantri untuk di-scan baik saya dan barang bawaan saya, saya langsung menuju teller dan memperlihatkan etiket travloka saya lewat smartphone kira-kira 15 menit sebelum pukul 4.

Tapi…

Hangus

ybemagazine.net

“Maaf mas, batas waktu check in sudah habis. Selambat-lambatnya 1 jam sebelum keberangkatan.” kata teller tersebut.

“Apa? Maksudnya?” kata saya.

“Tiket mas sudah hangus. Silahkan pesan lagi untuk jadwal berikutnya kalau masih ingin melanjutkan perjalanan.” tambahnya.

Saya terkejut, dan merasa bodoh mendengar hal itu. Saya belum pernah naik pesawat sebelumnya. Jadi saya tidak berpikir bahwa ternyata butuh waktu yang lama bagi sebuah pesawat untuk bersiap-siap lepas landas.

Saya kira seperti bis atau travel yang bahkan masih bisa menunggu sampai semenit sebelum keberangkatan.

Akhirnya saya meminta solusi dari teller tersebut. Dia menyarankan untuk menghadap bagian customer service di lantai dua.

Solusi

entrepreneur.com

Setelah saya memberikan memo dari teller di lantai satu, dan menjelaskan masalahnya, customer service memberikan solusi pengembalian uang 10% dan saya mesti memesan tiket lagi.

Hal itu tentu saja membuat saya kecewa dan menyesal. Ini memang salah saya.

Dan apa boluh buat, itulah prosedur yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diganggu gugat.

Saya akhirnya turun dan memutuskan untuk pulang dulu. Meskipun sebenarnya malu dengan orang tua tentang hal ini.

Saya menelpon ayah saya yang sudah tiba di rumah. Saya menjelaskan tentang ketertinggalan saya untuk check in di bandara, dan menjelaskan kronologinya.

Pelajaran

a2ua.com

Saya meminta dijemput lagi.

Setelah menunggu sekitar 30-an menit, akhirnya ayah saya tiba di bandara lagi.

Saya dijemput, dan akhirnya kamipun pulang.

Di jalan ayah saya menasihati saya agar tidak lagi terlalu bersantai-santai dan menjadikan ini pelajaran.

Saya juga merasa menyesal dan malu. Ini pelajaran yang mahal untuk saya. Sebuah pelajaran singkat seharga 600-an ribu rupiah.

Itu bukan uang yang sedikit. Uang yang saya miliki setelah membeli semua perlengkapan, dan tiket keberangkatan tinggal 600 ribu.

Sehingga dengan sedikit uang tambahan dari orang tua saya, saya membeli tiket lagi untuk tanggal 10 Agustus, dengan jam keberangkatan dan harga yang sama.

Saya mesti menunggu lagi untuk berangkat pada tanggal 10 Agustus nanti, dan harus tiba di bandara pukul 2 siang agar tidak terlambat lagi.

Karena kalau sampai terlambat lagi, bisa-bisa saya tidak jadi berangkat karena kehabisan uang.

Bersambung ke OTW: Palembang-Sintesa (Part 3)

2 thoughts on “OTW: Palembang – Sintesa Bagian 2

Leave a Comment