OTW: Palembang – Sintesa Bagian 3

Sintesa

Artikel ini adalah lanjutan atau sambungan dari artikel OTW: Palembang – Sintesa (Part 2). Kalau kamu belum membacanya, lebih baik baca dulu secara berurutan dari Part 1. Karena kalau belum, nanti kamu akan sulit memahami jalan ceritanya.

Tapi, kalau kamu malas, untuk memudahkanmu agar tidak bolak-balik halaman, saya ceritakan sedikit ringkasannya.

Pada part-part sebelumnya saya menceritakan bagaimana saya memulai persiapan untuk berangkat ke Pesantren Sintesa hingga akhirnya saya ditinggal oleh pesawat karena terlambat check-in. Hingga akhirnya saya memesan tiket lagi dan benar-benar mempersiapkan keberangkatan sematang-matangnya.

Saya memesan tiket di Traveloka dengan jam keberangkatan yang sama yaitu pukul 4.00 sore. Dan kali ini saya datang ke bandara jauh lebih awal, yakni dari jam 2 siang.

Berikut cerita perjalanan saya dari Palembang ke Pesantren Sintesa.

Palembang-Jakarta-Solo

flight_takeoff-wide

Untuk kendaraan pesawat, saya harus memesan tiket transit karena hanya ada satu bandara di Magetan, itupun bandara militer. Dan dari berbagai kota di sekitar Magetan yang ada bandaranya, Kota Solo lah yang terdekat dan harga tiket pesawatnya paling murah.

Ini pertama kalinya saya naik pesawat dan merasakan sensasi mengudara di atas awan. Melihat rumah-rumah dan gedung-gedung begitu kecil lewat jendela pesawat. Seakan-akan saya seperti raksasa di atas gerombolan semut.

Seperti perjalanan pesawat pada umumnya, perjalanan saya berjalan lancar. Terbang dari Palembang ke Jakarta dari  pukul 4 sore, dan sampai di Jakarta di waktu Ashar. Setelah shalat Ashar di mushala bandara, saya mengikuti prosedur transit. Setelah menunggu sampai menjelang isya’, pesawat berangkat lagi ke Kota Solo.

Sekitar pukul 9 malam, sampailah saya di Kota Solo.

Solo-Magetan

Dari bandara kota Solo, saya langsung naik mobil bis Damri (yang memang sudah menunggu), menuju Terminal. Di terminal, ada seorang bapak-bapak yang langsung membawa tas koper saya menuju bis yang akan menuju Terminal Maospati, Magetan.

Setelah dia meletakkan tas koper saya di dalam mobil, ternyata dia minta uang 20 ribu rupiah. Ternyata! oh saya tertipu. Akhirnya saya tawar, dan saya berikan 15 ribu, hitung-hitung sedekah.

Mobil berangkat. Di dalam mobil saya tidur berbaring di bangku paling belakang, karena mobilnya sepi penumpang dan saya juga sedang mengantuk.

Pondok Jaranan

Setelah tiba di terminal Maospati, Magetan sekitar pukul 12 malam, saya langsung dihampiri seorang tukang ojek.

Dia bertanya kemana tujuan saya. Saya jawab, Gorang Gareng, Pesantren Sintesa.

“Pesantren Sintesa?” dia sepertinya agak bingung. “Maksud saya Pondok Jaranan” kata saya.

“Oo.. pondok jaranan. Saya sering nganter santri kesana.” jawabnya.

Namun, sebelum saya memutuskan untuk naik ojeknya, saya menelpon pihak pesantren. Tapi, mungkin karena sudah terlampau larut malam, nomornya tidak bisa dihubungi. Sepertinya hapenya dimatikan.

Akhirnya, setelah deal dengan harga yg ditawarkan, saya berdoa dan percaya saja dengan tukang ojek itu.

Saya sempat sedikit khawatir. Pasalnya, semakin jauh semakin gelap dan ramai semak belukar di pinggir jalan. Tapi ternyata, memang benar, saya diantar ke pondok jaranan yang letaknya cukup jauh dari alun-alun Kabupaten Magetan.

Masjid Al-Huda

shalat sunnah rawatib
Sumber: madinatuliman.com

Setelah sampai, si gerbang masuk pondok jaranan atau pesantren Sintesa, saya minta tukang ojek tersebut menemani saya mencari asramanya.

Tapi, karena tidak ada orang, setelah bolak-balik berkali-kali, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di sebuah masjid di komplek pondok jaranan ini yang bernama Masjid Al-Huda.

Setelah saya membayar tukan ojek tersebut, saya masuk masjid dan menelpon orang tua untuk mengabari bahwa saya sudah sampai.

Setelah shalat sunnah, saya pun tidur di masjid tersebut.

Sahur Pertama

Saya terbangun ketika seseorang membuka pintu masjid. Sekitar pukul 3, datang seseorang yang sepertinya pernah saya lihat di website Pesantren Sintesa. Ternyata dia adalah seorang santri yang hendak mendirikan shalat tahajjud. Akhirnya, saya diajak untuk ke asrama.

Sampai di asrama, ternyata para santri sedang bersiap-siap sahur untuk puasa senin-kamis. Akhirnya saya langsung ikut sahur dan berpuasa di hari pertama kedatangan saya di Pesantren Sintesa.

Sekian.

Leave a Comment