Sintesa: Cinta Pandangan Pertama Bagian 4

Sintesa

Setelah sebelumnya dari Part 1 sampai dengan Part 3 dari Seri artikel berjudul Sintesa: Cinta Pandangan Pertama ini saya menceritakan tentang bagaimana akhirnya saya menemukan Sintesa dan jatuh cinta pada pandangan pertama, di artikel ini saya akan menceritakan bagaimana akhirnya Pesantren Sintesa menerima cinta saya.

Seperti yang saya tulis di bagian akhir Part sebelumnya, hari-hari menjadi terasa lambat karena menunggu hasil pengumuman apakah saya diterima atau tidak. Padahal sebenarnya cuma 3 hari, tapi terasa seperti 3 minggu.

Mungkin itulah alasan Allah swt. mempertemukan saya dengan Sintesa di malam terakhir pendaftaran santri baru. Agar saya tidak perlu berlama-lama menunggu. Karena menunggu itu sesuatu yang tidak menyenangkan bagi saya.

Ada Telpon

Tanggal 3 Agustus (3 hari setelah saya mengirimkan formulir pendaftaran), mungkin sekitar pukul 9 pagi, telpon ibu saya berbunyi.

Beliau tidak mengangkat, karena nomor penelpon tidak dikenali. Beliau khawatir yang menelpon adalah tukang tagih hutang dari koperasi. Sedangkan sedang minim uang.

Setelah shalat dluha, beliau tidur sebentar. Dan dalam tidurnya ibu saya bermimpi.

Beliau bermimpi ada seorang pemuda yang pergi menjauh dari ibu saya. Ibu saya memanggil-manggilnya, tetapi ia tidak menoleh dan terus berjalan menjauh.

Ibu saya terbangun, dan beliau langsung ingat akan handphonenya yang berdering tadi. Akhirnya ibu saya menelpon balik nomor tak dikenali tadi. “Mungkin itu rezeki dari Allah” katanya.

Panggilan pertama, tidak dijawab. Panggilan kedua, tidak dijawab lagi. Akhirnya ibu saya pasrah dan berhenti menelpon.

Beberapa menit setelah itu, ada telpon lagi. Ternyata dari nomor yang sama. Penelpon itu menelpon balik rupanya. Mungkin tadi sedang sibuk sehingga tidak dijawab.

Asyrof, Oke

“Asyrof, ada telpon dari Pesantren Sintesa.” panggil ibu saya. Saya terkejut dan bersyukur, mendengarnya.

Ternyata, yang menelpon adalah santri angkatan 3 dari Pesantren Sintesa yang menjadi panitia penerimaan santri baru.

Dia menelpon ke nomor ibu saya karena nomor hp yang saya masukkan adalah nomor ibu saya. Sedangkan saya sedang tidak punya hp karena terjaduh dan pecah LCD.

Dia menjelaskan bahwa tujuannya menelpon adalah untuk mengkonfirmasi penyeleksian pendaftaran saya. Dia bertanya tentang latar belakang saya dan pengalaman bisnis online saya.

Lalu, saya juga ditanya tentang kelancaran membaca Al Quran. Saya menjawab bacaan saya lancar, sesuai yang saya tulis di kolom formulir pendaftaran. Lalu saya dites membaca Al Quran dan dia mendengarkan bacaan saya lewat telpon.

Setelah diwawancarai dan mendengarkan bacaan Al Quran saya, dia bilang bahwa semuanya sudah bagus. Dan dia minta untuk bicara dengan ibu saya kembali.

Dia bertanya pada ibu saya apakah saya sudah menjelaskan semua yang saya ketahui tentang Sintesa, dan apakah beliau mengizinkan saya untuk belajar di Pesantren Sintesa.

Tentu saja ibu saya mengiyakan.

Akhirnya, sebelum menutup telpon, dia bilang bahwa besok silahkan melihat pengumuman kelulusannya di Facebook Sintesa atau website Sintesa.

Namun, setelah mengucapkan salam, dia tidak mematikan panggilannya (sepertinya mengira sudah dimatikan dari pihak kami), dan terdengarlah ucapannya kepada temannya, “Asyrof, oke”.

Ibu saya yang mendengarnya pun tersenyum. Saya juga. Karena suaranya di-loudspeaker.

Pengumuman

Seperti yang dikatakan panitia yang menghubungi saya kemarin, bahwa hari ini pengumuman kelulusannya.

Jadi, dari pagi saya mengecek halaman Facebook berulang-ulang. Tapi, belum kunjung ada.

Setelah waktu ashar saya cek lagi, Alhamdulilllah… pengumumannya sudah ada, dan nama saya pun juga ada.

Dan saya tidak begitu terkejut, karena yakin pasti Allah mengabulkan doa saya.

Petualangan dimulai. Selesai.

1 thought on “Sintesa: Cinta Pandangan Pertama Bagian 4

Leave a Comment