Sintesa: Cinta Pandangan Pertama Bagian 1

Foto

Bismillahirrahmanirrahim. Perkenalkan lagi, nama saya Muhammad Asyrof. Saat ini status pendidikan saya adalah seorang santri Pesantren Sintesa. Yaitu pesantren yang fokus dalam mempelajari Al Qur’an dan bisnis online.

Kalau kamu masih bertanya apa yang saya pelajari disini, ya pastinya seperti yang saya tulis di atas, yaitu Al Qur’an dan bisnis online.

Ketika saya menulis artikel ini, sebenarnya saya masih tergolong santribaru di Pesantren Sintesa ini. Mungkin baru hampir satu bulan.

Sesuai dengan judul artikel ini yang bertuliskan Sintesa: Cinta Pandangan Pertama, ya saya akan bercerita bagaimana saya bisa jatuh cinta lewat pandangan pertama kepada Sintesa.

Begini ceritanya…

Psikologi

Sumber: upsccivilservices.com

Pada tahun 2013, setelah lulus dari Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, saya sangat ingin belajar ilmu psikologi dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah di jurusan Psikologi Islam.

Alasannya?

Karena saya melihat fenomena yang unik di dalam suatu ruang lingkup, yang dimana cara bersosial orang orang berprestasi dan orang-orang yang terbelakang dari segi akademis, itu berbeda.

Saya sendiri termasuk dari golongan orang-orang berprestasi. Sehingga saya penasaran apa yang ada di fikiran orang-orang yang tidak berprestasi sehingga kebanyakan dari mereka lebih peka dan peduli terhadap sesama.

Bukan berarti orang-orang berprestasi akademik tidak peduli dengan orang lain.

Tapi ada perbedaan tingkat kepekaan atau sebut saja solidaritas dan loyalitas yang signifikan antara orang-orang berprestasi dan nonprestasi.

Sehingga saya menyimpulkan bahwa mereka yang di kalangan bawah dari segi akademis yang lebih mengandalkan IQ, ternyata lebih unggul dari segi EQ.

Hal tersebut menarik perhatian saya, sehingga akhirnya, dengan berbagai proses, saya diterima di salah satu Universitas Islam Negeri di Palembang, yaitu UIN Raden Fatah.

Monoton

Sumber: deviantart.net

Selain belajar secara formal di ruang kelas, saya juga mengikuti komunitas kampus di bidang seni teater.

Di komunitas inilah saya belajar berorganisasi dan tentunya mendalami dan mempraktekkan ilmu psikologi sosial yang sedang saya pelajari.

Tapi, saya termasuk orang yang mudah bosan. Dan ketika saya sudah bosan, saya tidak ingin melakukannya.

Itu terjadi dengan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas. Saya semakin merasa bosan dengan kegiatan yang itu-itu  saja.

Pergi kuliah, mendengar dosen, menulis makalah.

Akhirnya, saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar kelas. Saya ffokus berorganisasi  dan berteater. Karena disana lebih banyak ilmu psikologi yang saya dapatkan dibandingkan jika hanya duduk di dalam kelas.

Di luar, saya bisa langsung mempraktekkan, bukan hanya mendengar dan mengangguk.

Berhenti

Sumber: famservices.com

Daripada buang-buang uang untuk bayar semesteran dan lain-lainnya, namun saya tidak bisa fokus dalam mengikuti perkuliahan, dan buang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak saya butuhkan, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan pendidikan perkuliahan saya di semester 5 dari Universitas Islam Negeri tersebut.

Walaupun orang tua awalnya kecewa, tapi dengan bermusyawarah, akhirnya lambat laun mereka me-ridlo-i keputusan yang sudah saya ambil.

Saya berhenti dengan bangga dari bangku perkuliahan tanpa menyesal sedikitpun, karena saya yakin, bahwa jalan yang saya ambil adalah benar.

Banyak orang yang mengatakan bahwa saya tidak bersyukur. Bahwa pilihan yang saya ambil itu bodoh. Bahwa langkah yang saya lakukan itu tidak benar. Tapi saya lebih tahu apa yang mampu dan tidak mampu untu saya jalani.

Salah satu prinsip saya adalah, dalam hidup ini saya tidak butuh ijasah. Karena, saya tidak ingin melamar pekerjaan. Saya tidak mau bekerja di bawah tekanan dan orang lain mengatur berapa gaji saya setiap bulannya.

singkatnya, saya ingin menjadi entrepreneur. Lebih kerucutnya, netpreneur.

Bersambung ke Sintesa: Cinta Pandangan Pertama (Part 2).

2 thoughts on “Sintesa: Cinta Pandangan Pertama Bagian 1

Leave a Comment