24 Jam di Pesantren Sintesa Bagian 1

Author: | Posted in Catatan No comments

Sintesa adalah pesantren bisnis online pertama dan satu-satunya yang ada di Indonesia (untuk saat ini). Tepatnya ketika artikel ini ditulis. Pesantren ini didirikan oleh seorang netpreneur muslim yang shaleh bernama Ibrahim Vatih.

Sesuai dengan slogan yang tertulis di situs Pesantren Sintesa, tujuan didirikannya pesantren ini adalah untuk menghijaukan generasi anak muda Indonesia. Maksudnya, untuk membantu para pemuda di Indonesia sehingga mereka dapat menjadi generasi yang istimewa dari segi agama dan dunia.

Di pesantren Sintesa, para santri difokuskan untuk belajar dua hal. Yaitu Al-Qur’an dan bisnis online. Mengapa demikian? karena menurut saya, dengan dua hal ini, InsyaAllah kita bisa meraih kebahagiaan di akhirat, dan di dunia yang semakin modern ini.

sintesa

Saya adalah salah satu santri yang dididik di Pesantren Sintesa. Ketika saya menulis artikel ini, saya dalam status sebagai seorang santri yang sedang belajar dan memperbaiki diri.

Sebagai santri yang belajar di pesantren, hal yang sangat penting untuk dipelajari salah satunya adalah manajemen waktu, agar proses belajar berjalan para santri sesuai dengan target yang ditentukan pesantren.

Untuk itulah, di setiap pesantren ada jadwal kegiatan yang mesti dipatuhi oleh para santrinya.

Sumber: sintesa.net

Di Pesantren Sintesa sendiri, menurut saya jadwal kegiatannya sudah bisa dikatakan baik. Selain menerapkan sunnah rasul dalam keseharian, jumlah kegiatan yang dijadwalkan pun tidak terlalu memberatkan, dan tidak terlalu ringan sehingga santri tidak terlena.

Nah, sesuai dengan judul yang saya tulis di atas, yaitu 24 Jam di Pesantren Sintesa, saya akan berbagi sedikit cerita tentang apa-apa saya yang dilakukan oleh para santri di Pesantren Sintesa, termasuk saya setiap hari atau 24 jam-nya.

Shalat Shubuh Berjamaah

Seperti di pesantren pada umumnya, ketika adzan shubuh berkumandang, para santri harus sudah mulai bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.

Setelah sampai di masjid, sesuai peraturan yang ada, kami  mesti mendirikan shalat rawatib qabliyah sebelum shubuh. Kalau kamu belum tahu apa itu shalat rawatib qobliyah, singkatnya adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum shalat wajib.

Sedangkan yang dilakukan setelah shalat wajib disebut shalat rawatib ba’diyah. Tapi dalam shalat shubuh tidak ada shalat ba’diyah. Hanya shalat qabliyah saja.

Shalat rawatib baik qabliyah maupun ba’diyah itu disunnahkan untuk melengkapi ketidaksempurnaan shalat wajib kita sebagai manusia biasa.

Talaqqi

Sumber: mudah.my

Talaqqi adalah salah satu metode dalam menghafal Al-Qur’an. Yaitu dengan adanya salah satu yang mendiktekan ayat Al-Qur’an dan yang lain mengikuti. Lalu diulang-ulang sampai dirasa cukup hafal.

Setiap setelah shubuh, kecuali hari libur, kami mesti menghafal 3 ayat per hari dengan metode talaqqi ini.

Dalam prosesnya, karena jumlah santri di angkatan saya ada sekitar 35 orang, maka dibagi menjadi 4 kelompok. Sehingga setiap kelompok terdiri dari 8 sampai 9 orang.

Setiap kelompok duduk bersila membentuk lingkaran, dan salah satu anggota kelompok membacakan atau mendiktekan ayat Al-Qur’an yang akan dihafal. Sedangkan yang lain mengikuti sampai hafal.

Setelah dirasa hafal, di akhir pentalaqqi menguji hafalan anggotanya. Jika semuanya sudah berhasil menghafal dengan baik, pukul 6 tepat, talaqqi diakhiri.

Tapi tidak cukup sampai di situ, karena yang namanya menghafal Al-Qur’an harus terus diulangi atau dimuraja’ah agar hafalannya tidak hilang.

Untuk itu, maka setiap satu minggu sekali (di Hari Sabtu pagi) diadakan setoran hafalan satu halaman kepada pentalaqqi. Dan Setiap berhasil menghafal seperempat juz (sekitar 5 minggu sekali), diadakan penyetoran hafalan kepada ustadz.

Kultum dan Evaluasi Harian

Sumber: jempolkaki.com

Setelah talaqqi atau menghafal qur’an selesai, selanjutnya diadakan kultum.

Maksudnya, dari kelompok talaqqi yang sudah dibagi, para santri tidak lagsung bubar, melainkan melanjukan untuk melakukan ceramah singkat kepada teman sekelompoknya.

Kultum ini digilirkan setiap harinya. Dengan adanya kultum ini, para santri dapat terus belajar secara mandiri dengan mencari ilmu secara mandiri di berbagai sumber, dan mampu berkomunikasi dalam masyarakat dengan baik.

Dalam prosesnya, tentu saja kultum ini ada kriterianya. Yaitu pemberi kultum harus menyiapkan materi kultumnya dengan matang, dan dalam penyampaiannya juga harus memuat minimal 2 dalil, baik dari Al-Qur’an, maupun dari Hadits.

Pemberi kultum pun harus menyampaikan kultumnya dalam durasi 7 sampai dengan 10 menit, tanpa membawa catatan atau contekan dalam bentuk apapun.

Sedangkan untuk yang lain atau yang mendengarkan, tidak boleh memotong atau menyela ketika pemberi kultum sedang menyampaikan materinya, tidak boleh mentertawakan pemateri, kecuali materinya memang lucu, tidak bersandar, dan tidak ada yang memegang hp.

Begitulah yang tertulis di tata tertib Pesantre Sintesa dan harus dipatuhi oleh semua santri.

Kegiatan kultum ini dibuka dan ditutup oleh moderator yang pada keesokan harinya menjadi pemberi kultum, dan begitu seterusnya secara bergiliran.

Setelah kultum ditutup, dilanjutkan dengan mengadakan evaluasi harian yang dipimpin oleh ketua kelompok yang isinya saling mengingatkan dan memusyawarahkan hal-hal yang dirasa perlu dibahas demi kelancaran dalam belajar.

Bersambung ke 24 Jam di Pesantren Sintesa Bagian 2.

No Responses

Tambahkan Komentar