Masjid Agung Palembang, Kenalan dengan Kemegahan Islam di Palembang

Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat muslim, lebih dari itu Masjid sering menjadi tempat wisata religi bagi banyak orang meskipun bukan umat muslim. Arsitektur yang unik dan bangunan yang megah umumnya menjadi daya tarik yang paling memikat untuk wisatawan. Terutama di Indonesia yang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbanyak di dunia.

Menjadikan Masjid tempat atau bangunan yang tidak hanya sakral, namun menyimpan banyak cerita dan tentunya memiliki unsur daya tarik secara religi maupun wisata.  Salah satunya adalah Masjid agung di kota Palembang, atau biasa disebut Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin 1.

Masjid Terbesar Di Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin atau biasa disebut Masjid Agung Palembang ini merupakan Masjid terbesar yang berdiri di kota Palembang. Masjid yang memiliki campuran arsitektur unik antara Indonesia, China dan tentunya Eropa ini, bisa menarik wisatawan untuk datang dan mengagumi keindahannya. Selain karena Masjid yang memiliki ukuran paling luas atau yang paling besar di Palembang.

Karya seninya dinilai tinggi, dilihat dari dan bentuknya dan juga arsitektur bangunannya. Di bangunan utama, Masjid Agung dibangun dengan gaya yang terlihat sangat Eropa, sedangkan arsitektur China bisa dilihat di bagian atap yang menyerupai bangunan klenteng untuk beribadah orang China. Masjid ini sudah mengalami pemugaran tahun 2000 dan selesai tiga tahun kemudian.

Sejarah Berdirinya Masjid Agung

Masjid Agung didirikan pada tahun 1738 yang artinya sudah berabad-abad yang lalu oleh Sultan yang berkuasa di Palembang pada jamannya. Dimana tahun 1748, Masjid diresmikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin 1 yang terkenal menjadi pemimpin sekaligus pahlawan dari Palembang. Masjid ini merupakan peninggalan kesultanan Palembang Darussalam dan menjadi Masjid yang sudah tua, bahkan menjadi yang tertua di kota Sriwijaya.

Pembangunan Masjid memakan waktu 10 tahun, dan menggunakan luasan tanah yakni 1080 meter persegi. Masjid ini bisa menampung sekitar 1200 jemaah dalam satu kali ibadahnya. Selain itu luasan dari Masjid memiliki ukuran 36 meter x 30 meter yang mengartikan Masjid ini begitu luas dan cukup menampung banyak jemaah. Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Nahamudin di tahun 1758, menara Masjid dibangun dengan lokasi menara terpisah dari bangunan utama.

Pola menara yakni berbentuk segi enam dengan tinggi mencapai 20 meter. Rupa menara sendiri berbentuk layaknya klenteng dan memiliki ujung serta beratap genteng. Menara Masjid juga memiliki teras berpagar yang mengelilingi bagian bangunan menara. Namun Masjid mengalami berbagai bentuk dan perubahan sehingga bangunan Masjid sedikit terlihat berbeda dengan bentuk bangunan ketika pertama berdiri. Meskipun begitu, estetika dan bangunan utama Masjid Agung tidak ada yang berubah.

Pemugaran Berulang

Ternyata pemugaran tidak hanya dilakukan tahun 2000 namun sebelumnya Masjid sudah dipugar berkali-kali karena sudah berdiri lebih dari 300 tahun. Masjid dipugar pada tahun 1819 dan dilakukan karena terkena dampak peperangan yang besar selama lima hari berturut-turut. Usia satu abad Masjid Sultan, yakni pada tahun 1848 Masjid kembali dipugar oleh pemerintah Hindia Belanda. Gaya tradisional gerbang utama masih layaknya masyarakat Belanda.

Selain itu ada juga pendopo, gerbang, serambi yang berbentuk bangunan Eropa. Pemugaran juga dilakukan untuk mencegah adanya bangunan yang sudah tua dan keropos, sehingga menghindari adanya bangunan yang runtuh atau membahayakan jamaah yang ibadah maupun berkunjung.  Masjid sendiri memang tidak hanya dipugar, tetapu juga diperluas. Yakni pada tahun 1897, Masjid diperluas oleh Pangeran Nata Agama Karta Manggala Mustofa Ibnu Raden Kamaluddin.

Lahan yang awalnya diwakafkan oleh Sayyid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha ini kemudian diubah menjadi Masjid Agung. Perbaikan juga dilakukan pada tahun 1893, dimana pada tahun 1916 bangunan menara menjadi sempurna dan 1930 ada perubahan pilar Masjid dengan penambahan jarak yakni 4 meter.

Kajian Islam

Karena menjadi Masjid yang dibanggakan warga Palembang, banyak masyarakat yang melakukan kajian Islam disini. Terlepas dari mereka yang hanya ingin belajar, ceramah, mengaji, mempedalam ilmu agama dengan membaca Alqran dan banyak lagi. Cukup banyak filosofi yang terbangun dari Masjid ini sehingga peran para ulama juga sangat besar dalam kontribusi persebaran Islam di Palembang, yang notabene merupakan masyrakat Tiong Hoa pada awalnya.

Selain itu, pusat penyebaran Islam dilakukan di Masjid besar yakni Masjid Agung Palembang ini. Seringkali adanya kegiatan keagamaan yang bersifat besar seperti layaknya Isra Mi’raj, Maulid Nabi dan juga Ramadhan menambah semarak kota Palembang dengan kegiatan religi.

Tinggalkan komentar