Pentingnya Menjaga Kebersihan dan Kesucian Diri dalam Islam

Author: | Posted in Islam No comments

Rasulullah saw. adalah manusia terbaik yang pernah diciptakan. Beliau adalah panutan yang paling ideal bagi setiap manusia. Tak hanya mensucikan hati dari berbagai penyakit rohani, tapi juga seorang yang perfect dalam menjaga kesucian dan kebersihan jasmani.

Rasulullah saw. selalu memberikan perhatian yang detail terhadap kebersihan tubuhnya. Beliau selalu menjaga badannya agar selalu dalam keadaan suci dan bersih. Dan banyak hadits-hadits dari beliau mengenai kesucian.

bersih dan suci

Kita pasti pernah mendengar kalimat ini: Annazofatu minal iman.

Yang artinya, kebersihan adalah sebagian dari iman.

Tapi, tunggu dulu. Saya tidak bilang kalau itu adalah salah satu hadits Rasulullah swt. mengenai kebersihan atau kesucian.

Kalimat itu hanyalah sebuah pepatah, bukan hadits. Tidak ada di kitab hadits manapun yang meriwayatkan hadits dengan kalimat tersebut.

Tapi masalah islami atau tidaknya, tentu itu perkataan yang islami. Sebab, perkataan tersebut didukung dengan adanya sebuah hadits hasan yang berbunyi:

Allah Taala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah menyerupai orang Yahudi. (HR. Tirmidzi)

Memang ada sebuah hadits shahih agak mirip dengan perkataan ‘kebersihan sebagian dari iman’.

Hadits shahih ini berbunyi:

“At-thahuuru syatrul iimaan.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi).

Tapi, arti hadits tersebut adalah ‘bersuci adalah sebagian daripada iman’.

Yang perlu kita perhatikan adalah, kebersihan dan kesuciann itu hal yang tidak bisa disamakan, walaupun secara makna bahasa, annazhafah dan attharuuru sama-sama berarti bersih.

Tetapi dalam ushul fiqih, terdapat kaidah bahwasannya arti asal suatu kata dalam Al-Qur’an dan Hadits adalah arti terminologis (makna syari), bukan arti etimologis (makna bahasa).


Mengenai kesucian ini, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah ra. bahwa Rasulullah bersabda:

“Ada sepuluh perkara yang termasuk dalam kesucian, yaitu: menggunting kumis, memelihara janggut, bersiwak (menggosok gigi), membersihkan lubang hidung dengan air, memotong kuku, membersihkan peruasan jemari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan beristinja.” Zakariyya berkata, “Mush’ab berkata, ‘Dan saya lupa yang kesepuluh, barangkali ia adalah berkumur.” Qutaibah menambahkan, “Waki’ berkata, ‘Intiqash al’ma’, yakni beristinja.'” (HR. Muslim)

Kita semua tahu bahwa setiap hadits Rasulullah saw. adalah berasal dari apa yang ada pada diri beliau.

Ini artinya, beliau memang begitu detail dalam menjaga kebersihan diri, dan perlu disampaikan agar para umatnya pun bisa selalu dalam keadaan yang bersih dann suci ini.

sunah-anjurkan-potong-kuku

Dalam hadits lain, rasulullah saw. pernah berkata kepada  Abu Hurairah:

“Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang.” (HR Ahmad)

Mengenai ‘setan mengikat’ tidak hanya sebatas setan yang menggoda kita, tapi lebih dari itu, dengan kuku yang panjang tentu akan memberi banyak mudharat bagi dirinya dalam segala hal.

Dari segi kebersihan dan kesucian, tentu sangat tidak sesuai. Akan sangat mudah bagi kotoran untuk masuk ke dalam sela-sela antara kuku dan jari, dan mengendap. Alhasil, air wudhu pun akan sulit untuk masuk ke dalam sela-sela kuku.

Dari segi kesehatan, kalau kotoran dan bakteri menumpuk di sela kuku yang panjang, akan menyebabkan kumman-kuman tersebut masuk ke dalam perut ketika makan. Dan alhasil menumbulkan penyakit.

Dari segi sosial, apakah kamu senang ketika melihat orang yang punya kuku panjang, apa lagi kotor dan tak terurus? Saya rasa kamu sepakat bahwa kuku panjang terlihat tidak rapi dan tidak nyaman di mata.

Dari segi efektifitas, kuku panjang juga bisa menyebabkan berbagai kendala ketika kita menggunakan tangan. Misalnya bisa melukai diri sendiri atau orang lain, bisa menyulitkan kita ketika melakukan aktifitas yang menggunakan jari sebagai penumpunya, dan bahkan bisa-bisa mencederai kuku.

Itulah sebabnya Rasulullah saw. sampai memerintahkan Abu Hurairah untuk memotong kukunya dalam hadits tersebut.

Di bagian lain, ada gigi yang dianjurkan untuk disiwak atau disikat. Hal ini juga menjadi perhatian penting dalam menjaga kebersiha dan kesucian.

gigi-anak

Mulut adalah bagian tubuh yang palingg dekat dengan teman bicara kita. Bayangkan saja kalau kamu sedang menasihati orang lain, tapi ternyata mulutmu bau. Maka akan menjadi bencana bagimu.

Yang lebih penting lagi, mengenai istinja. Kalau tidak beristinja, maka kamu menyisakan najis. Kalau najis, maka tidak sah wudhunya. Dan kalau tidak sah wudhu, maka tidak diterima shalatnya. Nah, lho!

Jadi, mari menjaga kebersihan dan tubuh kita.

Sekian dulu, salam.

Tambahkan Komentar