Sebuah Tulisan yang Tak Perlu Dibaca

Author: | Posted in Catatan No comments

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah swt. yang telah memberikan kita nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga dapat berkumpul di blog ini untuk membaca informasi yang bisa saya sampaikan lewat kombinasi antara jari dan keyboard laptop.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. Yang telah mewariskan Al-Qur’an dan Hadits kepada kita sebagai pedoman agar kita selalu bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin.

Kata terima kasih juga tak lupa saya ucapkan kepada kamu yang telah sudi meluangkan waktu untuk membaca apa yang sudah saya tuliskan di sini.

Alhamdulillah… sudah 100 kata.

Isi tulisan saya.

Tulisan ini saya buat di Sabtu malam, atau malam Minggu di Pesantren Sintesa. Tulisan ini saya ketik sekitar pukul 11 kurang ketika di sini listriknya sedang turun.

Jadi, dalam keadaan gelap gulita tanpa cahaya, kecuali dari laptop yang saya pakai untuk mengetik artikel ini, dan beberapa layar laptop dan smartphone lain milik teman-teman yang belum tidur.

Tujuan saya menulis artikel ini adalah untuk mengerjakan tugas dari guru saya di Pesantren Sintesa, di mana kami para santri harus menulis artikel tentang keseharian kami.

Tapi, saya bingung mau nulis apa. Jadi, saya tulis-tulis saja. Tanpa konsep dan tanpa perencanaan konten.

Alhamdulillah… sudah 200 kata.

Standar artikel Pesantren Sintesa.

Mengenai tulisan ini, sebenarnya ada standar yang harus dipatuhi. Yaitu minimal terdiri dari 700 kata, tujuh buah gambar, ada link internal dan eksternal, dan terdapat subheading.

Untuk itulah, saya tulis subheading di atas, dan memasukkan link di kata “Pesantren Sintesa”.

Nulis apa lagi ya?

Hmm… jujur saja. Sebenarnya saya sulit untuk menulis. Bukan ngetiknya, bukan juga tidak tahu cara menulis.

Tapi, saya merasa kesulitan kalau harus menuangkan suatu pemikiran ke dalam suatu tulisan. Walaupun tak hanya dalam bentuk tulisan. Dalam bentuk perkataan juga sepertinya begitu.

Tapi entahlah, yang penting sekarang…

tulisan ini sudah sampai 300 kata.

Kalau harus berhadapan dengan tulisan seperti ini, saya merasa sangat bodoh. Apalagi melihat teman-teman yang lain yang seolah begitu mudahnya menulis apa yang mereka tulis.

Bingung! Mau nulis apa lagi.

Entah apa yang membuat saya merasa sangat sulit untuk berfikir kreatif. Ya sudahlah, yang penting saya tulis saja.

Seperti judul yang saya tulis di atas, kamu tidak perlu membaca tulisan ini.

Kalau kamu masih membaca ini dan tidak mendapatkan apa-apa, saya tidak bertanggung jawab.

Saya hanya berusaha untuk menuliskan apa yang bisa saya tulis saat saya menuliskan artikel ini.

Alhamdulillah, sudah 400 kata.

Masih 300 kata lagi agar artikel ini lulus standar tugas.

Setengah jam sudah berlalu. Sedangkan artikel ini baru setengahnya (lebih sedikit) untuk mencapai 700 kata.

Ini mungkin bukan apa-apa bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, hal yang paling berat yang harus saya lakukan di sini adalah menulis artikel.

Butuh perjuangan yang sangat. Butuh menggenjot otak saya yang agak susah diajak berfikir terlalu keras. Butuh energy lebih yang harus didapatkan dari makanan berprotein tinggi.

Intinya, butuh berbagai hal yang bisa membantu saya menyelesaikan artikel ini.

Ya sudah, kalau begitu saya akan sedikit cerita tentang apa yang baru saja saya lakukan sebelum menulis artikel ini. Let’s check it out!

Eh, gak sadar, udah 500 kata aja.

Sebelum menulis artikel ini.

Sekitar pukul 10 saya merasa sangat lapar, dan Alhamdulillah diajak seorang teman saya ke angkringan untuk ngopi. Bisa dibilang tempatnya tidak terlalu jauh dari pesantren.

Saya pergi bersama Arifuddin (kalo di sini dipanggil Pak Yai karena beberapa alasan yang tak perlu saya ceritakan).

Kami pergi naik motor yang kami pinjam dari seorang teman yang lain.

Cuacanya sedang gerimis, jadi terasa cukup dingin.

Sampai di sana, saya membeli secangkir kopi susu seharga Rp 3000, 6 buah gorengan (terdiri dari 4 bakwan dan 2 molen) seharga Rp 3000, dan 1 tusuk sate telur puyuh seharga Rp 2000.

Jadi, total biaya yang harus dibayar adalah Rp 8000.

Tapi, karena saya sedang kehabisan uang, saya pinjam dulu uangnya Pak Yai sebesar Rp 10000.

Dibayarkan Rp 8000, jadi sisanya Rp 2000.

Setelah menghabiskan kopi dan gorengan yang dibeli, kami pun pulang.

Ketika sampai pesantren, ternyata keadaan asrama listriknya mati. Setelah ditanya, ternyata listriknya turun.

Tetapi, saklarnya di dalam rumah keluarga ustadz, dan sepertinya mereka sudah tidur. Jadi tidak enak kalau mengetuk pintu malam-malam.

Akhirnya, karena tidak ada internet untuk cari-cari bahan, saya putuskan untuk menulis artikel ini secara spontan.

Dan Alhamdulillah… setelah melalui proses mengetik yang panjang, akhirnya tulisan ini pun mencapai 700 kata!

Terima kasih sudah membaca tulisan tidak bermanfaat ini sampai akhir. Kalau begitu, saya tutup ya…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tambahkan Komentar